www.anakgonggo.com_hos tjokroaminoto_cokroaminoto

Langkah besar dan luar biasa Bung Karno sebagai negarawan, berbeda dengan HOS Tjokroaminoto yang notabene adalah gurunya, di dalam membangun bangunan Indonesia Merdeka.

Bangunan Indonesia Merdeka yang disebut NKRI telah dibangun oleh Bung Karno dengan menetapkan Bangsa Indonesia dilahirkan terlebih dahulu melalui Sumpah Pemuda, di dalam Konggres Pemuda II dengan Bhineka Tunggal Ika dijadikan spirit Kebangsaannya.

Kemudian Pancasila sebagai ‘filosofische grondslag’ ditetapkan sebagai landasan/dasar diletakkannya Bangunan Indonesia Merdeka (NKRI) di atasnya selama-lamanya.

Disinilah mengapa baru kemudian Negara Indonesia dibentuk dengan disahkannya UUD 1945. Yang disusun satu hari setelah proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta atas nama Bangsa Indonesia. Inilah Lintasan Kebenaran Perjalanan Sejarah Bangsa Indonesia.

Lintasan Kebenaran Perjalanan Sejarah Bangsa Indonesia ini berbeda dengan rancangan bangunan Indonesia merdeka yang telah dirancang oleh HOS Tjokroaminoto.

HOS Tjokroaminoto menghendaki bangunan Indonesia Merdeka terbangun dari 3 vektor isme (faham) yang akan membentuk kekuasaan terlebih dahulu, dimana faham nasionalis (cermin elit) dan faham komunis (cermin rakyat) sebagai frame horizontal dan faham agamis sebagai frame vertikal. Ke 3 vektor isme tersebut dirancang bertemu pada satu titik vertex yang disebut kapitalisme.

Inilah mengapa langkah Bung Karno sebagai negarawan disebut luar biasa. Karena seperti yang ditunjukkan oleh Lintasan Kebenaran Perjalanan Sejarah Bangsa Indonesia bahwa secara konsepsi NKRI sebagai bangunan Indonesia Merdeka tidak ada proses diskontinyu-nya, mulai dilahirkannya Bangsa Indonesia hingga dibentuknya pemerintah Negara Republik Indonesia.

Tetapi, rancangan bangunan Indonesia Merdeka oleh HOS Tjokroaminoto secara konsepsi terjadi proses diskontinyu dari ke 3 vektor isme sebagai kerangka dasar bangunan Indonesia merdeka tersebut pada titik vertex kapitalismenya. Pada hakekatnya faham nasionalis dengan faham komunis memiliki konsepsi dasar yang sama tentang kapitalisme, yaitu terlahir dari adanya usaha untuk menguasai sumberdaya yang terbatas.

Sedangkan faham agamis memiliki konsepsi dasar tentang kapitalisme yang berbeda dengan konsepsi dasar kapitalisme menurut faham nasionalis dan faham komunisme.

Kapitalisme menurut faham agamis adalah merupakan usaha bagaimana sumberdaya yang terbatas tadi dimusyawarahkan untuk diputuskan kegunaannya secara bersama di dalam mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat seluas-luasnya. Keputusan ini adalah sebagai bentuk Mufakat yang akan dikerjakan secara gotong royong di bawah satu kepemimpinan.

Jadi kapitalisme menurut faham agamis tidak akan pernah bisa bersatu secara utuh dengan kapitalisme menurut faham nasionalis dan faham komunis yang bertumpu kepada penguasaan penuh atas sumberdaya yang terbatas.

Bila ke 3 vektor isme itu, kemudian, dipaksakan untuk bersatu pada satu titik vertex kapitalismenya, maka faham agamisnya cenderung dinegasikan dan negara yang dibentuk akan cenderung menjadi negara sekuler. Inilah yang disebut negara demokrasi. Dan kehidupan bangsanya akan terkotak-kotak ke dalam isme-isme yang telah ditetapkan ada.

Itulah Konsep negara demokrasi ala Indonesia yang dirancang oleh HOS Tjokroaminoto dengan mempersatukan ke 3 vektor isme tersebut, nasionalis, komunis, dan agamis.

Tetapi, berdasarkan Lintasan Kebenaran Perjalanan Sejarah Bangsa Indonesia, Bung Karno, murid HOS Tjokroaminoto ini, telah membangun bangunan Indonesia Merdeka dengan sebutan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) secara kontinyu sebagai negara kebangsaan. Maknanya NKRI adalah bukan negara demokrasi.

Tetapi, di dalam perjalanan kepemimpinannya, Bung Karno pun akhirnya telah mengubah haluan NKRI dari negara kebangsaan yang berdasarkan Pancasila menjadi negara demokrasi ala Indonesia dengan menerapkan NASAKOM, pasca Maklumat X ditetapkan sebagai awal partai politik memiliki legitimasi untuk membentuk pemerintahan negara RI.

Inilah kepemimpinan Bung Karno, akhirnya, telah menjadikan NKRI pun sebagai negara sekuler. Maknanya NKRI yang sudah lepas dari Lintasan Kebenaran Perjalanan Bangsanya.

NASAKOM adalah konsepsi dasar HOS Tjokroaminoto di dalam membangun bangunan Indonesia Merdeka.

Dengan diterapkannya NASAKOM ini, NKRI yang seharusnya sebagai negara kebangsaan mulai limbung diambang kehancuran dimana NKRI kedudukannya telah dibangun menjadi negara demokrasi. Akhirnya, Bung Karno pun jatuh.

Tetapi, konsep NASAKOM ini telah diteruskan digunakan untuk membangun bangunan Indonesia Merdeka oleh pemerintahan orde baru dengan mengganti vektor Faham Komunis dengan Golongan Karya (GOLKAR) yang berbasis pada Faham Kekaryaan.

Dengan konsep dasar 3 vektor faham tersebut rezim orba ‘menggunakan’ UUD 1945 untuk membangun NKRI. Terkhusus, orba telah secara khusus menekankan penggunaan Pasal 2 ayat 1 UUD 1945 naskah asli di dalam membentuk pemerintahan negara RI.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Pasal 2 ayat 1 UUD 1945 naskah asli adalah merupakan ‘semantec error’ untuk tatanan sistemnya.

Maknanya bila pembentukan pemerintahan Negara RI didasarkan pada pasal 2 ayat 1 UUD 1945 naskah asli, maka kehidupan berbangsa dan bernegara bangsa Indonesia menurut tatanan sistem UUD 1945 tidak bisa berjalankan.

Disinilah rezim orba, akhirnya, menggunakan UUDs ’50 sebagai landasan hukum untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara Bangsa Indonesia.

Rakyat Indonesia tidak banyak yang mengetahui atau bahkan tidak ada yang tau atau tidak ada yang sadar atas kondisi ini, yaitu bahwa rezim orba tidak menggunakan dan menjalankan UUD 1945 secara murni dan konsekuen (slogan Pak Harto tahun 1967). IRONIS!

Akhirnya, rezim orba pun harus jatuh juga. Lahirlah rezim reformasi yang melakukan perusakan dan pengubahan UUD 1945 naskah asli yang dikerjakan dan disahkan oleh MPR 1999-2004.

Perusakan dan pengubahan UUD 1945 naskah asli yang dilakukan oleh MPR 1999-2004 adalah merupakan bentuk penyempurnaan UUDs ’50 yang tetap disebut oleh rezim reformasi sebagai UUD 1945 (hasil amandemen). Seharusnya, UUD tersebut disebut sebagai UUD 2002.

Dengan UUD 2002 (UUD 1945 hasil amandemen), paripurnalah NKRI sudah bukan sebagai negara kebangsaan. Tetapi NKRI telah dibangun menjadi negara demokrasi (negara sekuler) dengan tingkat ketidak-pastian (uncertainty) yang tinggi. Karena jumlah partai-partai politik yang banyak.

Dengan kata lain semakin banyak jumlah partai-partai politiknya yang membentuk pemerintahan negara RI
sebagai negara demokrasi, maka semakin tinggi ketidak-pastian pemerintahan negara RI-nya.

Inilah bangunan Indonesia Merdeka (NKRI) yang kondisinya sudah tidak lagi sebagai negara kebangsaan, tetapi telah menjadi negara demokrasi yang dijalankan oleh partai-partai politik dengan pemerintahan campuran tergantung keperluan para elit partai-partai politiknya.

Pemerintahan negara RI adalah mirip pemerintahan campuran. Campuran pemerintahan oligarki partai politik dengan pemerintahan timotis (gila hormat) terkadang, juga dengan pemerintahan demokratis (yang melakukan tindakan anarkis secara sistemik) terkadang, dan juga pemerintahan tyranny (semau gue) seringkali.

Dengan HOS Tjokroaminoto telah membangun konsep negara demokrasi ala Indonesia yang tidak diikuti oleh Bung Karno seperti yang ditunjukkan oleh Lintasan Kebenaran Perjalanan Sejarah Bangsa Indonesia, mungkinkah HOS Tjokroaminoto pun merupakan satu dari sekian konseptor negara yang telah membangun ranjau-ranjau untuk kehancuran bangunan Indonesia Merdeka ke depan?” Wallahu’alam bishawab… SILAHKAN RENUNGKAN DAN FIKIRKAN! ASHK, PETA.

(Agus Salim Harimurti Kodri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

anakgonggo distributor tiket online melayani pembelian dan pendaftaran tiket online MMBC. Reservasi 085624446464 Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: