Hilangnya rasa malu para elit politik dari segelintir kecil elit Bangsa Indonesia telah menjadikan Bangsa Indonesia menjadi bangsa pendusta bila berbicara, menjadi bangsa pengingkar bila berjanji, dan menjadi bangsa pengkhianat bila dipercayai.
Inilah kehidupan mayoritas Bangsa Indonesia yang dihasilkan dari tindakan anarkis secara sistemik (yang mereka sebut sebagai demokrasi) oleh mereka orang-orang yang menghendaki Bangsa Indonesia dan NKRI hancur.
Prosesnya adalah diangkatnya pejabat tinggi negara RI, termasuk Presiden RI, dengan menggunakan metoda proses demokrasi dengan penetapan jumlah suara terbanyak. Walaupun metoda ini sudah dinyatakan buruk oleh Aristoteles, para elit politik yang notabene hanya segelintir kecil elit bangsa ini telah menetapkan penggunaan metoda ini. 
Penggunaan metoda tersebut telah meninggalkan proses musyawarah untuk mufakat berjenjang keatas secara berkesinambungan sebagai metoda untuk mengangkat pemimpin bangsa mulai dari Ketua RT/RW hingga Presiden RI (sebut pejabat tinggi negara RI). Metoda ini adalah juga merupakan jatidiri bangsa.
Sebagai metoda yang juga jatidiri bangsa, proses Musyawarah untuk Mufakat Berjenjang Keatas secara berkesinambungan disamping sebagai metoda untuk mengangkat pemimpin bangsa juga akan menjamin tetap hidupnya jatidiri bangsa lainnya, seperti Bhineka Tunggal Ika, Pancasila, UUD 45 naskah asli, dll. 
Oleh karena itu, Bangsa Indonesia harus kembali menggunakan proses Musyawarah untuk Mufakat Berjenjang Keatas secara berkesinambungan. TINGGALKAN metoda proses demokrasi dengan penetapan jumlah suara terbanyak. ASHK, PETA.
(Agus Salim Harimurti Kodri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: