Bila Orang-Orang Bangsa Indonesia berpegang kepada Sila I Pancasila dengan benar dan baik, maka mereka tidak pernah akan ada yang berani mencalonkan diri (meminta), apalagi melamar, untuk menjadi seorang pemimpin atau pimpinan di dalam suatu Lembaga Negara. Karena pemimpin itu adalah suatu ‘rewards’ untuk seseorang yang telah bekerja dengan tekun, sabar, dan penuh dedikasi dengan loyalittas yang tinggi kepada Bangsa dan Negara Indonesia dimana hasilnya telah dirasakan oleh seluruh, sekurang-kurangnya mayoritas, Rakyat Bangsa Indonesia.

Pasca reformasi ’98, orang-orang Bangsa Indonesia jadi gemar mencalonkan diri atau meminta atau melamar menjadi seorang pemimpin atau pimpinan di Negri tercinta Indonesia.
Di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo ada proses melamar untuk menjadi pejabat eselon I dan II di Lembaga-Lembaga Negara (bursa lelang pejabat) dengan persyaratan yang ditetapkan. Kondisi ini adalah suatu proses keblingernya kehidupan berbangsa dan bernegara Bangsa Indonesia dewasa ini. Lucunya kondisi ini disambut rame-rame oleh mereka yang ‘katanya’ sudah memenuhi persyaratan. Benar-benar kehidupan yang sesat dan menyesatkan ini tidak boleh diteruskan.

Inilah produk kebijakan yang dibuat tanpa Ilmu oleh orang-orang bodoh yang telah diangkat menjadi pemimpin oleh kehidupan Bangsa Indonesia yang orang-orang berilmunya telah punah atau dipunahkan secara sistemik sebagai tindakan anarkis. Inilah makna demokrasi sebagai tindakan anarkis secara sistemik. Kondisi dan situasi ini sangat jauh dari makna Trisakti yang dimaksud oleh Bung Karno sebagai langkah ‘the right man on the right place.’ Dan kondisi inipun suatu situasi yang sangat jauh dari Pancasila dan naskah asli UUD 1945.

‘ALL AND ALL’ INILAH HASIL DARI TINDAKAN ANARKIS SECARA SISTEMIK YANG DISEBUT DEMOKRASI! MAU SEPERTI INI KONDISI YANG KITA HARAPKAN KE DEPAN? ASHK, PETA.

Agus Salim Harimurti Kodri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: