Beberapa minggu kemarin kita melihat berita soal razia PMKS (Penyandang masalah Kesejahteraan Sosial) oleh Pemprov DKI Jakarta. Razia ini menyasar sejumlah tempat yang sering dijadikan tempat mangkal dan mencari rezeki. Sejumlah gelandangan, pengemis, pemulung dan joki three in one terjaring oleh Satpol PP bahkan tak jarang orang-orang yang terjaring melawan saat akan dimasukkan kedalam mobil tahanan PMKS.

Kita dapat melihat dari tayangan di televisi saat orang yang terjaring razia PMKS ada yang berteriak-teriak menolak ditangkap, ada juga aksi kejar-kejaran antara petugas satpol PP dengan para penyadang masalah sosial. Ada juga tayangan dimana seorang yang diduga gelandangan lari dari kejaran satpol PP dengan turun ke got yang cukup dalam, dan gelandangan itu menolak untuk menyerahkan diri ke petugas yang menunggu di atas got. Akhirnya aksi berlanjut dimana seorang petugas Satpol dengan diam-diam menangkap gelandangan itu dari belakang dan terjadilah aksi pergulatan diatara petugas dengan gelandangan tersebut. Jika kita melihat peristiwa itu lewaat tayangan TV mungkin ada sebagian pemirsa TV bertanya bagaimana perasaan Kamerawan yang mengambil gambar peristiwa pergulatan antara petugas dan gelandangan di dalam got itu.


Saya sebagai orang yang bekerja di stasiun televisi dan kebenaran juga sebagai seorang Kamerawan liputan berita sering meliput berbagai peristiwa yang lebih dari adegan peristiwa itu. Terkadang ada dilema melihat suatu peristiwa kekerasan yang terlihat di depan mata. Disatu sisi jiwa kemanusiaan terusik ingin membela dan disatu sikp profesionalisme sebagai wartawan juga muncul untuk tidak membela siapapun karena wartawan berdiri pada sikap netral. Mungkin ada juga yang bertanya apakah saya akan diam saja jika ada seseorang sudah tak berdaya dan butuh pertolongan disaat mengambil gambar suatu peristiwa?. Jawabannya saya akan menolong dengan sebelumnya saya akan mengambil gambar beberapa menit untuk kebutuhan pemberitaan. Apalagi jika orang yang saya lihat itu dalam kondisi berbahaya, tentu saja jiwa kemanusiaan Saya yang tergerak. Hal ini pernah saya lakukan saat Saya dalam bertugas.


Jika ditanya apa yang saya pilih mana antara kerja atau hati nurani? jawabanya tentu Hati nurani, sebab manusia yang tidak punya hati nurani bagaikan mayat hidup. Sebagai Manusia, kita akan berarti jika keberadaan kita dibutuhkan oleh banyak orang. Tidak akan ada artinya menjadi manusia jika kita tidak saling tolong menolong dan hidup hanya mementingkan diri sendiri. jadi walaupun Saya harus bersikap profesional dalam bekerja tapi saya tetap mementingkan Hati Nurani, tidak peduli jika saya kehilangan momen peristiwa sebab menolong nyawa manusia lebih saya utamakan dari pada gambar yang hanya dapat ditonton tanpa orang tahu ada apa dibalik peristiwa dalam mengambil gambar itu.

(Iwan Delsu – kogajakarta.wordpress.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: