Sudah dinyatakan secara formal (dinyatakan oleh pejabat negara) bahwa Presiden Joko Widodo itu lebih liberal dari Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY). Maka terbuktilah bahwa apa yang saya nyatakan sebelum Pilleg dan Pilpres 2014 dimulai itu benar sekarang!
Saya nyatakan bahwa “Bila Bangsa Indonesia tetap menggunakan metode proses demokrasi dengan penetapan jumlah suara terbanyak untuk mengangkat para pemimpinnya, khususnya untuk mengangkat Presiden RI, maka kehidupan Bangsa Indonesia ke depan akan dipimpin oleh Presiden RI yang lebih buruk dari Presiden SBY!

Dasar saya menyatakan pernyataan tersebut adalah: “Pertama, metode proses demokrasi dengan penetapan jumlah suara terbanyak dibangun sebagai bagian dari faham zionisme adalah untuk memunahkan kaum aristokrat (orang-orang berilmu) bangsa-bangsa non yahudi secara sistemik duduk di kursi-kursi kekuasaan negara.”
Begitu juga, Aristoteles telah menyatakan bahwa: “Metode proses demokrasi dengan penetapan jumlah suara adalah buruk”. Oleh karena itu, makna “…dengan penetapan jumlah suara terbanyak memiliki arti bahwa pemimpin yang diangkat adalah orang-orang yang terburuk dari calon-calon yang diajukan!”

Terakhir bahwa “Metode proses demokrasi dengan penetapan jumlah suara terbanyak adalah bukan jatidiri bangsa Indonesia.” Maknanya, bila metode ini digunakan untuk mengangkat para pemimpin NKRI, maka akan diangkatlah orang-orang bodoh, orang-orang ambisius, orang-orang yang kemaruk harta kekayaan duniawi dan orang-orang yang kemaruk kekuasaan menjadi pemimpin NKRI mulai dari Presiden RI, Wakil Presiden RI, para Gubernur, para Walikota dan para Bupati, para anggota DPR/D, para Menteri Kabinet dan para pejabat tinggi negara lain-lainnya hingga para Camat dan Lurah.”

Orang-orang bodoh, ambisius, kemaruk harta dan kekuasaan yang diangkat menjadi pemimpin tersebut adalah orang-orang yang tidak memiliki pemahaman dan tidak memiliki kemampuan menerapkan secara nyata dan secara operasional akan Lintasan Kebenaran Perjalanan Sejarah Bangsa Indonesia untuk membangun kehidupan Kebangsaan Indonesia dan tatanan sistem NKRI dengan benar dan baik.
Para pemimpin ini akan membuat pernyataan/kebijakan tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan! Mereka boleh jadi orang-orang yang membenci agama. Bangsa Indonesia harus segera kembali kepada Pancasila sebagai dasar negara dan kembali kepada naskah asli UUD 1945 di dalam membangun kehidupan Kebangsaan Indonesia. Ini adalah landasan dasar membangun tatanan kehidupan Kebangsaan Indonesia dalam tatanan sistem NKRI yang berdasarkan Lintasan Kebenaran Perjalanan Sejarah Bangsa Indonesia dan bersifat unique (satu-satunya) di dunia sebagai suatu nikmat dari sisi Tuhan Yang Maha Esa kepada seluruh Bangsa Indonesia.

Peringatan saya kepada seluruh Bangsa Indonesia, “JANGAN JADI TUKANG (BANGSA) NYONTEK!” Terutama kepada seluruh Lembaga Pendidikan, terutama Perguruan Tinggi. Kepada seluruh Perguruan Tinggi bangun Ilmu untuk membangun kehidupan bangsa dan negara kita sendiŕi, bukan jadi tukang tambal sulam dari ilmu-ilmu membangun kehidupan bangsa-bangsa dan negara-negara dari bangsa-bangsa lain yang ada di dunia. Yang akhirnya menyebabkan wajah Bangsa Indonesia dan NKRI yang unique menjadi compang camping seperti gembel jalanan.

KARENA NKRI ADALAH TATANAN SISTEM KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA YANG UNIQUE (SATU-SATUNYA) DI DUNIA, YANG TERBANGUN DARI BANGSA DULU DILAHIRKAN, BARU KEMUDIAN NEGARA DIBENTUK! DISINILAH TUHAN YANG MAHA ESA AKAN BERTANYA KEPADA SELURUH BANGSA INDONESIA, “NIKMATKU MANALAGI YANG ENGKAU AKAN DUSTAKAN?”

KESALAHAN INI ADALAH KESALAHAN SELURUH BANGSA INDONESIA, MAKANYA AYO KEMBALI! ASHK, PETA.

(Agus Salim Harimurti Kodri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: